Kamis, 24 Maret 2011

Ghost of City Soeil

Pada  sebuah festival film di Amerika Selatan, empat tahun lalu, saya menonton satu film yang memikat. Film itu sederhana. Namun sangat rumit pengerjaannya. Film Ghost of City Soeil, karya sutradara Asger Leth. Asger (saya tahu), telah  mempertaruhkan nyawanya. Ada keberanian untuk bisa merekam semua peristiwa, secara alamiah.  Semua rekaman peristiwa  menjadi sangat menajubkan, manakala di edit. Kisahnya seputar tahun tahun terakhir keruntuhan rejim diktator presiden Haiti, Aristides.

Seperti kita tahu, presiden Aristides memang sangat ditakuti. Kekuasaannya didukung oleh sekelompok sipil bersenjata. Kelompok sipil, yang melegalkan cara apapun untuk terus menerus bisa melindungi kekuasaan yang cenderung diktator dan korup.

Bagi saya film ini menakjubkan. Kenapa ? Dalam sebuah percakapan dengan Asger, saya sangat tersentuh dengan kesetiaan pada sebuah profesi. Profesi sebagai : pembuat film. Asger, dengan caranya yang luar biasa memproduksi film dokumenter yang akhirnya di blow up untuk konsumsi penonton bioskop. Ia dengan tim-nya menghabiskan waktu hamper empat tahun untuk mengerjakan film Ghost of City Soeil. Konon katanya, film dokumenternya, tak ada funding, investor yang mendanai.

Hal lain yang menarik bagi saya adalah, strategi untuk dapat merekam peristiwa peristiwa yang sangat unik, menyentuh, akrab dan dekat. Dengan pengetahuannya, Asger berhasil masuk ke satu kelompok sipil bersenjata. Film ini mengangkat secara personal beberapa sosok manusia dalam gang tersebut. Bengis, kejam, namun juga konyol sekaligus menyimpan aspek humanis-nya yang kuat.

Dalam beberapa scene, Asger sengaja meninggalkan beberapa kamera video, di beberapa rumah  subyek filmnya. Hasilnya : menakjubkan ! Sebab, penonton akan disuguhi gambar gambar yang sangat personal, akrab dan dekat. Barangkali, bagi Asger, sudah lewat-lah rejim gambar gambar bagus. Ia lebih konsisten menangkap peristiwa, secara factual. Bukan keindahan fotografinya.


Film ini mengangkat tokoh tokoh gangsters yang begitu bengis, kejam gagah berani di awal film, namun ketika ending, rolling title film, saya menemukan subyek subyek film itu sudah tewas semua. Lantaran, gangster ini dihabisi oleh militer oposisi presiden Aristides.

Bagi saya, sutradara mengambil telah resiko. Ini sebuah film yang mengancam. Namun, klaimnya, Asger ingin menceritakan peristiwa di Haiti, yang masyarakat dunia belum tahu. Masyarakat dunia penting, untuk tahu.

Lalu saya berpikir, adakah film dokumenter kita yang memukau ? Dengan resiko tinggi bagi pembuatnya, dalam sebuah definisi kesetiaan profesi ? Kita pernah mengenal teman Tino Saroengallo dengan Student Movement-nya. Lalu, setelah itu ? ****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar